Edukasi, Benchmarking Dan Bisnis Experimental

business.jpgSaat ini saya sedang di percaya oleh beberapa teman untuk menjalankan sebuah bisnis yang masih experimental. Kenapa saya bilang experimental. Karena belum ada perusahaan atau usaha sejenis yang mampu bertahan lebih dari 10 tahun.

Bahkan di Indonesia belum ada usaha sejenis yang berumur lebih dari 5 tahun. Menurut saya sebuah bisnis/usaha dibedakan dalam 2 macam. Yaitu konvensional dan experimental. Sebuah bisnis konvensional adalah bisnis yang jelas kemana kita mem Benchmark nya. Ada(banyak) contoh serupa yang sudah berjalan selama lebih dari 10 tahun atau bahkan ratusan tahun. Dan eksis, sukses dan terus berkibar.

Butuh tiga hal menurut saya dalam melakukan bisnis serupa. Keberanian, Uang dan Kepintaran. Tanpa ketiganya sudah dapat dipastikan anda akan hancur. Investasi dalam bisnis seperti ini tidak dapat di prediksi hasilnya. Karena memang tidak ada bench mark nya.

Sangat berbeda dengan bisnis konvensional yang tinggal melakukan bench mark habis habisan. Mungkin dengan sedikit pengetahuan tentang apa kesalahan dari perusahaan yang di Bench Marking. Dengan mengetahui dan mempelajari kesalahan mereka kita dapat merebut pasar.

Sejarah membuktikan bahwa yang unggul adalah yang meniru. Sedangkan yang menjadi pioneer biasanya di tinggal kan atau dilupakan. Bahkan bangkrut total. Baik itu bisnis online maupun bisnis offline.

Mungkin anda lupa atau malah tidak pernah dengar situs situs search engine seperti Altavista atau Lycos. Atau pernah anda dengar Domain Registrar seperti Register.com. Atau Affiliate network seperti Linkshare dan Commision Junction.

Buat anda yang belum pernah dengar nama nama tersebut sekedar informasi mereka adalah pioneer di bidangnya. Mereka yang mengedukasi orang pertama kalinya. Ketika bisnis mereka berkembang, ide mereka di tiru di Bench Mark habis habisan. Tentu saja dengan membenahi semua kekurangan mereka.

Ketika masyarakat sudah teredukasi mereka tidak mampu untuk mempertahankan pasar. Kenapa? Yang meniru akan selalu lebih pintar. Akan selalu lebih unggul. Karena market sudah tersedia, masyarakat sudah teredukasi dan tentu saja operational cost jauh lebih murah. Karena praktis R&D dan trial error tidak lagi dilakukan.

Hal ini tidak hanya terjadi di internet tapi juga di bisnis offline. Apapun bisnis itu. Mengedukasi masyarakat adalah suatu hal yang sulit. Membutuhkan kesabaran, kejelian, dan intuisi tersendiri. Namun ketika itu sudah terjadi bukan berarti perkara anda selesai. Anda masih harus mempertahankan pasar. Ini bagian yang terberat.

Pesaing pesaing baru dengan modal raksasa dapat dengan mudah mempelajari bisnis anda dan tiba tiba menjalankan bisnis serupa tepat disebrang toko anda. Dengan harga lebih murah, Pelayanan lebih sempurna dan lain lain.

Di tahun 90 an telur Omega merupakan produk hasil inovasi sebuah perusahaan peternakan. Di produksi dengan cara memberi makan ayam petelur dengan kandungan omega 6, omega 9 dan macam macam omega lain. Untuk mengedukasi masyarakat perusahaan ini melakukan iklan besar - besaran di televisi, radio, koran dan media lain nya.

Memang dalam beberapa bulan saja telur tersebut lebih laku daripada telur ayam yang di jual konvensional. Walaupun harganya lebih mahal. Namun apa yang terjadi kemudian. Disaat perusahaan tersebut sedang menikmati hasilnya? Dalam waktu 2 tahun muncul puluhan merk dengan kandungan yang lebih bermacam macam.

Masyarakat telah teredukasi. Hingga mereka akhirnya memilih telur dengan merk lain yang mempunyai kandungan lebih bermacam dan harga yang tentunya lebih murah. Sejarah membuktikan bahwa pioneer akan mati dan diganti dengan peniru.

Burger King lebih dulu masuk di Indonesia namun McDonald lebih berkibar hanya karena McDonald menyediakan nasi dalam menunya. BCA adalah bank pertama yang memiliki Internet Banking namun kenyataan nya sekarang sebagian besar orang lebih suka pada Bank Mandiri.

Menjalankan sebuah bisnis eksperimental sangat berat dan menyita waktu. Masyarakat harus teredukasi terlebih dahulu sebelum bisnis ini benar benar di terima masyarakat. Research dan Trial error menyita waktu yang tidak sedikit. Bukan hanya itu biaya pun membengkak. Karena tidak ada contoh.






3 Responses to “Edukasi, Benchmarking Dan Bisnis Experimental”

  1. ih aku malah gak peratiin Burger King tuh duluan yah di Indo….malah lupa dimana tempatnya…….cikini ya?

  2. Wah, baca posting anda sungguh membuka mata. Bisa menimba ilmu dan wawasan.

    Kalau boleh, saya tambahkan sedikit dalam kasus BCA vs Bank Mandiri. Saya kira orang ‘berpaling’ ke Bank Mandiri bisa disebabkan ‘over susbcribe’ yang terjadi di BCA. Nasabahnya sudah terlalu banyak. Sehingga orang harus antri panjang di depan ATM, misalnya. Atau antri berlama-lama untuk mengambil atau menyetor uang di teller.
    Bisa saja terjadi, mesti ada penelitian lebih lanjut, bahwa nasabah BCA sekaligus menjadi nasabah Bank Mandiri juga. Karena mereka mendapatkan manfaat yang baik dari keduanya. Jadi, lebih cenderung Bank Mandiri melengkapi kekurangan yang ada pada BCA. Bukan menggantikan peran BCA, mengambil nasabah BCA secara total.

    Begitu saja sih.

  3. Mandiri. Saya kira orang ‘berpaling’ ke Bank Mandiri bisa disebabkan ‘over susbcribe’ yang terjadi di BCA. Nasabahnya sudah terlalu banyak. Sehingga orang harus antri panjang di depan ATM, misalnya. Atau antri berlama-lama untuk mengambil atau menyetor uang di teller.

    Sekarang yang terjadi antrian lebih panjang di Bank Mandiri daripada bca. Intinya adalah.. ketika masyarakat sudah ter edukasi maka akan mudah untuk kompetitor merebut pasar. Dan biasanya pioneer nya akan sulit untuk mempertahankan nya

Leave a Reply